Runduk dalam Istighfar, Warga Qardhan Hasana Banjarbaru Gelar Sholat Istisqo
Shalat Meminta Hujan
.png)
Gambar : Suasana Sholat Istisqo di Yayasan Qardhan Hasana Banjarbaru
BANJARBARU — Suasana langit yang tampak diselimuti kabut asap tipis membentang di atas kawasan Kota Banjarbaru tak surutkan tekad ratusan warga Yayasan Qardhan Hasana untuk menengadahkan tangan, menundukkan jiwa, dan mengetuk pintu langit. Pada Jumat (23/10/2026) pagi, lapangan basket Yayasan Qardhan Hasana dipenuhi saf-saf jamaah yang berbaris rapi, melantunkan doa dan memohon ketukan rahmat berupa hujan melalui pelaksanaan Salat Istisqa.
Ratusan pasang mata dari murid kelas 5 hingga 12, para ustadz, pendidik, tenaga kependidikan, hingga Pengurus, Pengawas Yayasan Qardhan Hasana tampak khusyuk mengikuti prosesi ibadah sunnah tersebut. Ini merupakan pelaksanaan Salat Istisqa kedua yang digelar oleh pihak Yayasan Qardhan Hasana Banjarbaru, setelah sebelumnya kegiatan serupa dilaksanakan pada Jumat, 25 September 2026 lalu.
Sebelum melangkah ke lapangan terbuka untuk Salat Istisqa, seluruh rangkaian diawali dengan pelaksanaan Salat Dhuha dan dzikir pagi berjamaah di Ruang Induk Masjid Qardhan Hasana. Tradisi spiritual ini merupakan pilar pembiasaan karakter yang rutin dijalankan oleh keluarga besar Yayasan Qardhan Hasana sebelum mengawali agenda pembelajaran sehari-hari.
Bertindak sebagai khatib sekaligus imam, Ustadz H. Adnan, M.Pd., menyampaikan khutbah yang sarat akan pesan tauhid dan muhasabah diri. Dalam khutbahnya, beliau menegaskan bahwa kekeringan dan tertahannya hujan bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan teguran kasih sayang agar hamba-Nya kembali bersujud dan memperbanyak istighfar.
"Sesungguhnya hujan bukan sekadar fenomena alam. Hujan adalah rahmat dan rezeki dari Allah SWT. Ketika hujan tertahan, hendaknya kita tidak hanya memikirkan sebab-sebab lahiriah, tetapi juga bermuhasabah terhadap keadaan diri kita, memperbanyak istighfar, bertobat, serta kembali berpegang teguh pada ajaran Allah," tegas H. Adnan di hadapan ratusan jamaah.
Mengutip kalam Ilahi dalam Surah Nuh ayat 10–12, beliau mengingatkan keterkaitan erat antara tobat seorang hamba dengan diturunkannya keberkahan dari langit dan bumi:
"Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu". (Terjemahan QS. Nuh: 10–12)
Lebih lanjut, H. Adnan menekankan bahwa tobat yang hakiki tidak berhenti pada lisan semata, melainkan harus diwujudkan dalam ikhtiar nyata: memohon maaf atas kezaliman, menunaikan hak sesama, menyalurkan zakat, memperbanyak sedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, serta menyambung kembali tali silaturahmi yang sempat terputus.
Pelaksanaan ibadah diakhiri dengan panjatan doa yang dipimpin oleh khatib. Suasana haru dan khusyuk menyelimuti lapangan saat lantunan doa mengangkasa, diiringi sahutan "Aamiin" dari seluruh peserta yang berharap Allah SWT berkenan menyiramkan rahmat-Nya di bumi Banjarbaru dan sekitarnya. (AI/10/01)
